Salam semuanya,
Ini tulisan mengenai kekhawatiran dalam dunia pendidikan kita, sebetulnya apa yang menjadi pemikiran para pemangku kebijakan negeri ini khususnya dibidang pendidikan. Apakah ada yang perduli dengan generasi penerus / anak-anak kita.
Sistem pendidikan Indonesia menempati peringkat terendah di dunia. Berdasarkan tabel liga global yang diterbitkan oleh firma pendidikan Pearson, sistem pendidikan Indonesia berada di posisi terbawah bersama Meksiko dan Brasil. Tempat pertama dan kedua diraih oleh Finlandia dan Korea Selatan, sementara Inggris menempati posisi keenam.
Apakah ada yang perhatian mengenai bagaimana anak-anak kita sampai dengan saat ini dididik, karena yang saat ini terdengar hanya penurunan moral dengan sedikit prestasi. Khususnya dalam sistem pendidikan yang dikelola oleh pemerintah (negeri), apa yang bisa kita banggakan bahwa memang institusi pendidikan memberikan sumbangsih peningkatan kemampuan berpikir siswa. Yang ada hanyalah sistem yang mengupayakan untuk mengelompokkan sekolah dengan siswa pintar dan siswa kurang pintar. Bagaimana hal ini bisa memberikan nilai tambah??? Karena konsep pendidikan seharusnya memberikan nilai tambah tingkat intelektual siswa, dengan menanamkan sikap dasar utama seperti akhlak, moral, kebudayaan, dan agama.
Saat ini, pendidikan menjadi konsumsi pragmatis, begitu menyedihkan apabila masa depan generasi penerus dipertaruhkan hanya demi uang yang masuk ke kantong. Saya bersyukur bahwa saya tidak dalam sistem pendidikan saat ini, dimana semuanya terlihat membingungkan, bahwa sekolah hanya mementingkan grade bukan fokus kepada memperbaiki nilai dan pendidikan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Sekolah seperti apa yang melonggarkan sistem pengawasan agar anak-anak dapat mencontek?? Buat apa ada kelas internarional yang memuat bahan dual bahasa?? apa gunanya selain menambah pengetahuan bahasa yang bisa didapatkan lewat kursus. Sebetulnya apa yang diinginkan oleh sistem pendidikan di Indonesia saat ini? generasi apa yang sebetulnya ingin dibentuk pada masa akan datang? Apakan gengerasi dengan mental-mental korup pragmatis tanpa idealisme sehingga apatis dalam hidup bermasyarakat.
Ditambah dengan orang tua yang hanya menginginkan pendidikan instan dan egois. Egois dalam arti tidak perduli bagaimana anaknya mendapatkan pendidikan, hanya hasil yang diinginkan sehingga dapat membuat orang tua terlihat mengesankan dimata lingkungannya. Atau bahkan, paling buruk adalah orang tua yang hanya mengenal perhatian dalan konteks materi, sehingga sangat sibuk dalam mencari materi keduniaan membuat segala hal dalam dunia pendidikan dapa diselesaikan dalam bentuk uang.
Betapa kasihannya anak jaman sekarang, terlalu diforsir dan sistem pendidikan yang membingungkan. Lebih giat daripada orang tuanya bekerja, pergi paling pagi dan pulang sore. Menjauhkan ikatan keluarga dengan mengurangi waktu bersama keluarga. Bagaimana anak-anak tidak mengenal alamnya, agamanya, bahkan dirinya?? apakah itu yang diinginkan oleh sistem pendidikan kita. Apakah ada yang perduli terhadap mereka.
Saya perduli..
Apakah reformasi pendidikan diperlukan, atau bahkan direvolusi, yang tentunya mendukung anak-anak untuk mendapatkan masa depat yang cerah dengan jati diri yang mempunyai pondasi kuat. Karena anda harus percaya bahwa tidak ada manusia atan anak yang bodoh, yang ada hanyalah manusia yang tidak tahu bagaimana mengoptimasilisasi bakatnya, atau bahkan yang lebih menyedihkan lagi adalah manusia yang tidak tahu apa keinginannya maupun bakatnya.
Banyak yang harus dirubah, diganti, bahkan dipecat!!! apakah ada pemimpin yang mau beresiko untuk melakukan hal yang tidak populer seperti itu. Banyak guru yang hanya menginginkan gaji, bukan mendidik. Banyak pemangku kebijakan pendidikan yang tidak memahami arti mendidik. Perlu darah baru, perlu gairah baru untuk masa depan lebih baik, masa depan generasi penerus bangsa.
Sabtu, 23 November 2013
Langganan:
Komentar (Atom)